Potret Sosial, Ekonomi, dan Peluang Wisata Buah Kute Gulo-Aceh Tenggara

Sejarah Singkat Kute Gulo

Profil Desa Gulo-Aceh Tenggara
View Lanskap Desa Gulo, Kec. Darul Hasanah-Aceh Tenggara

Profil Desa – Pada awalnya, Kute Gulo merupakan hamparan lahan persawahan dan perkebunan milik masyarakat. Pada masa itu, Bupati H. Syahadat memiliki gagasan untuk menjadikan Kutacane sebagai sebuah kabupaten dengan nama Kabupaten Aceh Tenggara. Seiring dengan rencana tersebut, kawasan persawahan masyarakat kemudian mulai ditata dan berkembang menjadi sebuah perkampungan kecil yang awalnya dihuni oleh enam kepala keluarga.

Seiring berjalannya waktu, perkampungan ini terus berkembang hingga menyerupai kampung-kampung lainnya. Kute Gulo mengalami perkembangan yang cukup pesat ketika datang sekelompok penduduk di bawah kepemimpinan seorang kepala desa untuk menetap di wilayah tersebut. Bertambahnya jumlah penduduk mendorong masyarakat Kute Gulo untuk terus mengembangkan kehidupan sosial dan ekonomi mereka. Pada masa itu, sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani padi.

Pada tahun 1960, Kute Gulo yang awalnya terdiri dari tiga dusun, yaitu:

  1. Dusun Lawe Nimber di sebelah utara
  2. Dusun Lawe Gulo di sebelah selatan
  3. Dusun Lawe Panden di sebelah timur

Mulai berkembang menjadi sebuah pemukiman yang lebih besar dan terstruktur.

Kondisi Sosial Masyarakat

Workshop Rencana Kegiatan Desa Gulo
Workshop Penyusunan Rencana Kegiatan Desa Gulo

Masyarakat Kute Gulo didominasi oleh suku Alas. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka menggunakan Bahasa Alas yang bercampur dengan Bahasa Indonesia. Kehidupan sosial masyarakat sangat menjunjung tinggi budaya, adat, dan istiadat yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur masyarakat adat.

Dari sisi perekonomian, masyarakat Kute Gulo memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan mengandalkan sektor pertanian dan perikanan yang telah dijalankan secara berkesinambungan dari generasi ke generasi. Selain itu, masyarakat dikenal memiliki rasa kepedulian sosial yang tinggi, saling membantu antar sesama, terutama dalam kegiatan keagamaan, kebudayaan, dan adat istiadat. Nilai-nilai agama dan budaya menjadi perekat utama dalam kehidupan bermasyarakat.

Meskipun berpegang kuat pada adat dan tradisi, masyarakat Kute Gulo tetap terbuka terhadap masyarakat dari kute tetangga maupun dari luar daerah. Hal ini mencerminkan sikap masyarakat yang menjunjung tinggi perbedaan serta mengedepankan kebersamaan dan keberagaman.

Di sisi lain, masyarakat Kute Gulo masih memerlukan dukungan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan. Peningkatan kualitas sumber daya manusia sangat berkaitan dengan tingkat pendidikan dan meningkatnya angkatan kerja. Namun, keterbatasan lapangan pekerjaan, khususnya di wilayah Kabupaten Aceh Tenggara dan Kute Gulo, menyebabkan potensi tersebut belum dapat terserap secara optimal. Oleh karena itu, masyarakat berupaya mencari alternatif dan menganalisis peluang yang ada guna menciptakan lapangan pekerjaan mandiri yang berkelanjutan.

Letak Geografis Kute Gulo

Kute Gulo terletak pada ketinggian sekitar 200 meter di atas permukaan laut dan berbatasan langsung dengan kawasan pegunungan di sebelah barat, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Berdasarkan peta citra satelit, wilayah ini berada pada koordinat 97.77834502163165 Bujur Timur.

Secara administratif, wilayah Kute Gulo memiliki batas-batas yang jelas guna mendukung tertibnya penyelenggaraan pemerintahan dan kegiatan masyarakat. Adapun batas wilayah Kute Gulo adalah sebagai berikut:

  1. Sebelah utara berbatasan dengan Kute Lawe Setul
  2. Sebelah timur berbatasan dengan Sungai Alas
  3. Sebelah barat berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser
  4. Sebelah selatan berbatasan dengan Lawe Sikap

Kelembagaan Kute Gulo

Lembaga merupakan wadah yang berfungsi untuk menjalankan tugas dan peran tertentu dalam rangka mencapai tujuan bersama. Keberadaan lembaga dan organisasi di Kute menjadi sarana pendukung pelaksanaan tugas dan fungsi pemerintahan Kute, yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memberikan pelayanan (service), melakukan pemberdayaan (empowerment), serta mendorong pembangunan (development) yang berorientasi pada kepentingan masyarakat Kute.

Pemerintah Kute berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan Kute. Dalam menjalankan urusan pemerintahan desa, Pemerintah Kute bekerja bersama Badan Permusyawaratan Kute (BPK) sebagai mitra dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kedudukan ini menempatkan Pemerintah Kute sebagai pelaksana utama tugas-tugas pemerintahan Kute, khususnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, memberdayakan masyarakat, serta melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan.

Mengingat kompleksnya permasalahan dan kebutuhan dalam penyelenggaraan pemerintahan Kute, struktur Pemerintah Kute terdiri dari Pengulu sebagai kepala pemerintahan Kute yang bertanggung jawab penuh atas jalannya pemerintahan, serta dibantu oleh perangkat Kute yang berperan sebagai pelaksana dan pendukung tugas-tugas Pengulu dalam menjalankan roda pemerintahan, pelayanan masyarakat, dan pembangunan Kute.

Struktur Pemerintahan Desa Gulo, Aceh Tenggara

Potensi dan Masalah Kute

Kute Gulo merupakan salah satu Kute di Kecamatan Darul Hasanah yang sumber pendapatan utama masyarakatnya bertumpu pada sektor pertanian. Jumlah penduduk Kute Gulo sebanyak 563 jiwa, yang terdiri dari 275 jiwa penduduk laki-laki dan 288 jiwa penduduk perempuan. Sebagai wilayah pemukiman berbasis agraris, Kute Gulo memiliki potensi yang cukup besar, baik potensi yang telah dimanfaatkan maupun potensi yang belum dikelola secara optimal.

Potensi yang dimiliki Kute Gulo meliputi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang perlu terus digali dan dikembangkan guna meningkatkan kemakmuran masyarakat secara umum. Namun, dalam proses pengembangan potensi tersebut, masyarakat Kute Gulo juga dihadapkan pada berbagai permasalahan. Salah satu permasalahan utama adalah rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, yang berdampak pada belum optimalnya pemanfaatan potensi yang ada.

Permasalahan lain yang dihadapi adalah belum tersedianya sarana dan prasarana yang memadai, baik untuk meningkatkan sumber pendapatan masyarakat maupun untuk mendukung pelayanan umum. Kondisi ini menghambat pengembangan perekonomian Kute yang seharusnya dapat bertumpu pada ekonomi kerakyatan dan pengelolaan potensi lokal secara berkelanjutan.

Secara umum, potensi dan permasalahan Kute Gulo dapat dideskripsikan melalui beberapa aspek yang saling berkaitan sebagai bagian dari sistem kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, yaitu sebagai berikut:

Sumber Daya Aparatur dan Perangkat Kute

Penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan di Kute Gulo secara umum dikelola oleh dua elemen utama, yaitu Pemerintah Kute yang dipimpin oleh Pengulu beserta jajaran perangkat Kute, serta Badan Permusyawaratan Kute (BPK) atau Tuha Puet Kute sebagai mitra dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan.

Selain itu, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kute (LPMK/LPMD) dan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) merupakan elemen masyarakat yang perannya sangat dibutuhkan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam pelaksanaan pembangunan. Keberadaan lembaga-lembaga tersebut sebagai representasi masyarakat diharapkan mampu memfungsikan diri sebagai agen dan fasilitator pembangunan di tingkat Kute.

Ekonomi

Perekonomian Kute Gulo secara umum masih didominasi oleh sektor pertanian dan perikanan, dengan sistem pengelolaan yang cenderung tradisional, mulai dari pengolahan lahan, pola tanam, hingga pemilihan komoditas. Untuk lahan basah (persawahan), komoditas unggulan masih didominasi oleh padi dan sebagian kecil tanaman palawija.

Kondisi ini dipengaruhi oleh struktur tanah yang dinilai belum sepenuhnya sesuai untuk pengembangan komoditas pertanian alternatif, serta permasalahan mendasar berupa sistem pengairan yang belum optimal. Akibatnya, sering terjadi kekurangan air terutama pada musim kemarau. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis untuk mengatasi persoalan pertanian, antara lain melalui:

  • perbaikan sistem irigasi dan pengairan,
  • pemanfaatan teknologi tepat guna,
  • perbaikan pola tanam,
  • serta pemilihan komoditas pertanian alternatif yang sesuai dengan kondisi lahan, melalui koordinasi dengan instansi terkait seperti Dinas Pengairan dan Dinas Pertanian.

Sosial Budaya

Kondisi sosial budaya masyarakat Kute Gulo menunjukkan bahwa kualitas sebagian sumber daya manusia masih relatif rendah, serta masih kuatnya budaya paternalistik dalam kehidupan bermasyarakat. Namun demikian, pola budaya tersebut dapat diarahkan menjadi kekuatan dalam pembangunan, khususnya dalam hal mobilisasi dan partisipasi masyarakat.

Di sisi lain, karakter masyarakat Kute Gulo yang cenderung ekspresif, agamis, dan terbuka dapat menjadi modal sosial yang penting untuk mendorong transparansi dan keterbukaan dalam setiap penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan.

Aspek Pendidikan, Kesehatan, dan Kesejahteraan Sosial

Dalam bidang pendidikan, penyelenggaraan pendidikan di Kute Gulo saat ini masih belum memadai. Hal ini ditandai dengan masih tingginya jumlah penduduk yang buta huruf serta terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan formal. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia dan tingkat kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Aspek Pemuda dan Olahraga

Permasalahan kepemudaan menjadi isu penting mengingat besarnya jumlah penduduk usia muda di Kute Gulo. Kondisi ini memerlukan perhatian dan penanganan yang serius, karena tanpa pembinaan yang memadai, potensi munculnya permasalahan seperti pengangguran, kenakalan remaja, serta penyalahgunaan obat-obatan terlarang dapat menjadi ancaman bagi keberlanjutan pembangunan dan kehidupan sosial masyarakat.

Analisis SWOT Kute Gulo

Strengths (Kekuatan)

  • Ketersediaan sumber daya alam yang cukup luas, terutama lahan pertanian dan perikanan.
  • Mayoritas masyarakat memiliki pengalaman dan keterampilan turun-temurun di sektor pertanian.
  • Nilai sosial, adat, dan budaya masih kuat serta menjadi perekat kehidupan bermasyarakat.
  • Tingginya rasa gotong royong dan kepedulian sosial dalam kegiatan keagamaan, adat, dan kemasyarakatan.
  • Masyarakat bersifat terbuka, agamis, dan ekspresif, sehingga berpotensi mendorong partisipasi dan transparansi dalam pembangunan.
  • Kelembagaan Kute telah terbentuk, seperti Pemerintah Kute, BPK/Tuha Puet, LPMD, dan PKK.

Weaknesses (Kelemahan)

  • Tingkat pendidikan masyarakat relatif rendah, termasuk masih adanya penduduk buta huruf.
  • Pengelolaan pertanian dan perikanan masih bersifat tradisional dan belum berbasis teknologi.
  • Sistem irigasi dan pengairan belum memadai, terutama saat musim kemarau.
  • Terbatasnya sarana dan prasarana pendukung ekonomi dan pelayanan umum.
  • Kurangnya diversifikasi komoditas pertanian yang bernilai ekonomi tinggi.
  • Keterbatasan lapangan pekerjaan di tingkat Kute.
  • Pembinaan pemuda dan kegiatan olahraga belum berjalan optimal.

Opportunities (Peluang)

  • Dukungan program pemerintah di bidang pertanian, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan ekonomi kerakyatan.
  • Potensi pengembangan pertanian terpadu, pertanian organik, dan diversifikasi komoditas lokal.
  • Peluang kerja sama dengan instansi terkait seperti Dinas Pertanian, Dinas Pengairan, dan lembaga pendamping.
  • Letak geografis yang berdekatan dengan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, berpotensi dikembangkan untuk edukasi lingkungan dan ekonomi berbasis alam.
  • Ketersediaan tenaga kerja usia produktif yang cukup besar.
  • Peluang pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis hasil pertanian dan perikanan.

Threats (Ancaman)

  • Perubahan iklim yang berdampak pada ketersediaan air dan hasil pertanian.
  • Terbatasnya lapangan kerja dapat meningkatkan angka pengangguran dan urbanisasi.
  • Ancaman kerusakan lingkungan akibat pengelolaan sumber daya alam yang tidak berkelanjutan.
  • Risiko munculnya permasalahan sosial seperti kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkoba.
  • Ketergantungan ekonomi masyarakat pada satu sektor utama, yaitu pertanian padi.
  • Fluktuasi harga hasil pertanian dan perikanan yang tidak stabil.

Peluang Pengembangan Wisata Buah Kute Gulo

Kalender Musim Gulo
Kalender Musim Buah dan Komoditas Pertanian Desa Gulo

Selain sektor pertanian dan perikanan, Kute Gulo memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata berbasis pertanian, khususnya wisata buah. Kondisi geografis yang sejuk, ketersediaan lahan, serta kedekatan wilayah dengan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) menjadi modal alamiah yang sangat mendukung pengembangan wisata berbasis alam dan agroekologi.

Wisata buah dapat dikembangkan melalui kebun-kebun masyarakat yang ditata secara terpadu, menanam berbagai jenis buah lokal dan buah dataran menengah yang sesuai dengan kondisi tanah dan iklim Kute Gulo, seperti durian, mangga, rambutan, langsat, jeruk, alpukat, manggis dan pisang. Pola ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang produksi, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan rekreasi bagi pengunjung.

Pengembangan wisata buah berpotensi membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat, terutama melalui kegiatan petik buah, penjualan hasil panen langsung dari kebun, produk olahan buah, serta jasa pendukung seperti kuliner lokal, homestay, dan pemandu wisata desa. Kegiatan ini dapat melibatkan pemuda dan perempuan Kute Gulo secara aktif, sehingga turut mengurangi pengangguran dan meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat.

Selain aspek ekonomi, wisata buah juga memiliki nilai edukatif dan ekologis. Pengunjung dapat diperkenalkan pada sistem pertanian tradisional, kearifan lokal dalam mengelola lahan, serta pentingnya menjaga keseimbangan alam di wilayah penyangga TNGL. Dengan pengelolaan yang tepat, wisata buah dapat dikembangkan sebagai wisata berkelanjutan yang tetap menjaga kelestarian lingkungan dan adat istiadat setempat.

Melalui dukungan pemerintah daerah, pendampingan teknis, serta penguatan kelembagaan Kute, pengembangan wisata buah di Kute Gulo diharapkan menjadi salah satu strategi unggulan dalam mendorong ekonomi kerakyatan, memperkuat identitas desa, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Telah disadur di : Wikipedia

(TA)

4 Comments

  1. Sangat bagus informasi yang lengkap dan inspiratif tentang desa Gulo sehingga saya bisa jadi lebih kenal dekat dengan desa itu.

  2. Kute Gulo dengan berbagai kekuatannya menjadi peluang dalam membangun agrowisata di Kuta Cane, namun pendampingan untuk penguatan bidang perkebunan dan kelembagaan harus terus dilakukan agar terbentuk fieldtrip atau roadmap wisata yg bukan hanya sekali kunjungan, misalnya, disediakan homestay di masyarakat agar wisatawan juga bisa menikmati makanan lokal dari produk kebun, wisata air sambil menikmati alam dan wisata budaya dgn kerajinan dari hutan yg masih ada di Kute Gulo atau di kecamatan tersebut. Hal ini dibuat paket wisata dua atau hari dgn nominal yg sudah disepakati.
    Terlebih lagi yg harus dipikirkan adalah bagaimana produk perkebunan juga dpt diolah setelah panen sehingga ada produk turunan dgn nilai jual tinggi drpd bahan mentah, seperti minyak kemiri, kiripik jengkol dll. Demikian menurut saya, jika ingin berdiskusi lebih lanjut silahkan email saya 😊

    • Terima kasih banyak atas masukannya 😊. Saya sangat setuju bahwa pengembangan Kute Gulo perlu diarahkan bukan hanya menjadi lokasi kunjungan, tetapi membangun pengalaman wisata yang menghubungkan alam, perkebunan, budaya, dan ekonomi masyarakat.

      Masukan terkait penguatan kelembagaan, pengolahan hasil kebun menjadi produk turunan, serta konsep paket wisata menjadi catatan penting untuk dikembangkan agar manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Semoga ke depan bisa kita diskusikan lebih lanjut. 🙏

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *