
Gelombang solidaritas untuk donasi banjir Sumatera kembali mengalir ketika banjir Aceh 2025 merendam rumah-rumah warga di berbagai kabupaten. Bantuan datang dari banyak arah dalam bentuk makanan, pakaian, perahu evakuasi, hingga uluran tangan dari orang-orang yang mungkin tak pernah saling mengenal sebelumnya.
Tetapi di balik bantuan yang bergerak cepat itu, tersimpan pertanyaan yang membuat kita terpecut: mengapa banjir datang semakin sering ditanah sumatera ini, dan apa yang sedang berusaha diingatkan alam kepada kita melalui banjir yang berulang dari tahun ke tahun?
Ketika Hujan Membawa Kembali Ingatan
Ada yang selalu kembali setiap kali hujan turun berhari-hari di tanah ini. Bukan hanya air. Tetapi ingatan.
Ingatan tentang sungai yang meluap hingga menelan halaman rumah. Tentang jalan kampung yang hilang di bawah arus keruh. Tentang perabot yang terapung, sawah yang tenggelam, dan anak-anak yang berdiri di ambang pintu memandangi hujan seperti sedang menunggu sesuatu yang akan menjadi petaka atau hikmah.
Di kaki-kaki Ekosistem Leuser, hujan selalu punya cerita panjang. Ia turun di punggung gunung, menyusuri akar-akar pohon tua, menetes dari daun ke daun, lalu berkumpul di sungai-sungai kecil sebelum bergerak menuju kampung-kampung di hilir.
Dulu air datang seperti tamu mulia yang meyirami tanaman dan setelah hujan, ikan akan banyak di sungai kawasan ekosistem leuser. Kini ia datang lebih sering seperti kabar yang siap mengantarkan duka atau petaka.
Banjir di Sekitar Leuser dan Luka yang Ditinggalkannya

Sepanjang beberapa tahun terakhir, banjir di wilayah sekitar Leuser datang semakin sering dan dengan daya rusak yang lebih besar.
Di Aceh Singkil, banjir pada 2024 merendam puluhan desa dan memaksa ribuan warga mengungsi. Rumah-rumah terendam, akses jalan terputus, lahan pertanian rusak, dan aktivitas masyarakat lumpuh berhari-hari.
Secara lebih luas, berbagai kejadian banjir di Aceh sepanjang tahun 2024 menyebabkan kerusakan pada:
- rumah warga
- sekolah
- jembatan penghubung
- fasilitas ibadah
- lahan pertanian dan perkebunan
- jaringan jalan desa
- sumber mata pencaharian masyarakat
Tetapi banjir selalu meninggalkan kehilangan yang tidak semuanya tercatat.
Akhir 2025 menjadi musim yang berat bagi banyak wilayah di Aceh.
Hujan turun berhari-hari tanpa jeda. Sungai meluap hampir bersamaan. Air datang dari hulu membawa lumpur, kayu, dan tanah yang runtuh dari lereng.
Di Aceh Tamiang, banjir besar yang terjadi sejak akhir November 2025 membuat ribuan warga kehilangan tempat tinggal. BNPB mencatat ratusan keluarga korban bencana terdampak dengan kerusakan rumah kategori berat, sehingga sebagian warga harus tinggal di hunian sementara dan menerima bantuan Dana Tunggu Hunian. Hingga awal 2026, pemerintah masih melanjutkan pembangunan hunian sementara bagi warga penyintas.
Namun Aceh Tamiang bukan satu-satunya. Banjir dan longsor pada periode yang sama juga melanda:
- Aceh Timur
- Aceh Tengah
- Bener Meriah
- Aceh Utara
- Bireuen
Laporan BNPB menyebut bencana banjir besar akhir November hingga Desember 2025 merendam permukiman, memutus jalan utama, merobohkan jembatan, merusak sekolah, fasilitas kesehatan, lahan pertanian, dan kebun-kebun warga di sejumlah kabupaten tersebut. Banyak desa sempat terisolasi karena akses darat tertutup longsor dan jembatan putus.
Di beberapa tempat, kerusakan tak berhenti pada rumah dan infrastruktur. Sawah gagal panen. Ternak mati terseret arus. Sumber penghidupan ikut hilang bersama air bah. Tetapi seperti biasa, banjir selalu meninggalkan kehilangan yang tidak semuanya tercatat dalam laporan resmi.
Ada buku pelajaran yang basah sebelum sempat dibaca kembali. Ada kebun yang ditanam bertahun-tahun lalu lalu tenggelam hanya dalam satu malam. Ada foto keluarga yang larut bersama lumpur. Ada dapur yang penuh endapan tanah. Ada anak-anak yang tidur di pengungsian sambil mendengar hujan masih jatuh di atas atap tenda.
Dan ada kecemasan yang tinggal lebih lama daripada air yang perlahan surut. Di saat seperti itu, banjir tidak lagi hanya terlihat sebagai peristiwa alam.
Ia berubah menjadi ingatan kolektif. Sesuatu yang terus hidup dalam percakapan warga, dalam cerita di warung kopi, di meunasah, di pinggir sungai dan di kepala mereka yang rumahnya pernah disentuh air.
Leuser: Hutan yang Menahan Air Sebelum Sampai ke Kampung
Leuser bukan sekadar bentang hijau di peta. Ia adalah rumah bagi sungai, tanah, satwa liar, dan jutaan kehidupan yang bergantung padanya. Hutan bekerja dengan cara yang sunyi. Ia menyerap air hujan. Akar-akar pohon mengikat tanah. Lapisan humus menahan air meresap ke bumi. Lalu air dilepas perlahan melalui mata air dan aliran sungai.
Saat hutan tetap utuh, air punya tempat untuk singgah. Tetapi ketika tutupan hutan berkurang, tanah kehilangan daya pegangnya. Air hujan tak lagi banyak terserap. Ia bergerak cepat di permukaan, membawa lumpur, batang kayu, batu, lalu menuju pemukiman.
Di situlah banjir menjadi lebih deras. Lebih cepat. Dan lebih sulit diprediksi.
Ekosentrisme dan Cara Pandang tentang Alam

Dalam kajian lingkungan, ada satu cara pandang yang terasa dekat dengan Leuser: ekosentrisme. Ekosentrisme memandang alam sebagai sesuatu yang memiliki nilai pada dirinya sendiri.
Hutan bukan semata bernilai karena menghasilkan kayu. Sungai bukan penting hanya karena memberi air bagi manusia. Satwa liar bukan ada hanya untuk dilihat. Semua memiliki hak hidup dan perannya masing-masing dalam menjaga keseimbangan bumi.
Manusia bukan pusat dari seluruh kehidupan. Manusia adalah bagian dari jaringan kehidupan itu. Dan ketika satu bagian rusak, bagian lain akan ikut merasakan akibatnya.
Cara pandang ini sesungguhnya bukan hal baru di sekitar Leuser. Masyarakat adat telah lama memahaminya lewat pengalaman hidup bersama hutan. Mereka membaca sungai sebagai urat nadi. Membaca pohon sebagai penjaga tanah. Membaca banjir sebagai tanda bahwa ada yang sedang terganggu.
Menjaga Alam dalam Perspektif Islam
Hubungan manusia dengan alam juga dijelaskan dengan indah dalam ajaran Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
(HR. Bukhari dan Muslim)
“Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan menjadi sedekah baginya.”
Hadis ini sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Menanam pohon bukan hanya soal penghijauan. Ia adalah bentuk amanah. Ia adalah ibadah. Ia adalah sedekah yang manfaatnya terus mengalir. Pohon memberi buah. Pohon memberi teduh. Pohon menahan erosi. Pohon menyimpan air. Dan dalam diamnya, pohon juga membantu menahan datangnya banjir.
Leuser Menyimpan Ingatan, Manusia Perlu Mendengarnya
Leuser menyimpan banyak ingatan. Ia mengingat hujan yang turun sejak ratusan tahun lalu..Ia mengingat jejak gajah yang melintas di pagi hari. Ia mengingat sarang rangkong di pucuk pohon. Ia mengingat akar yang menggenggam tanah.
Dan mungkin ia juga mengingat setiap luka yang pernah dibuka manusia di tubuhnya. Air pun tidak pernah benar-benar lupa. Ia mengingat lereng yang dibuka. Ia mengingat pohon yang ditebang. Ia mengingat lumpur yang dibawanya dari hulu. Dan pada waktunya, ia mengalir membawa semua itu ke hilir. Kadang melewati rumah-rumah kita.
Ketika Banjir Datang, Apa yang Sedang Ingin Disampaikan Alam?
Banjir mungkin selalu menjadi bagian dari siklus alam. Tetapi ketika ia datang semakin sering, semakin deras, dan meninggalkan kerusakan yang lebih besar, barangkali ada pesan yang perlu dibaca lebih serius.
Mungkin banjir bukan hanya soal curah hujan. Mungkin ia adalah bahasa bumi. Sebuah tanda bahwa hubungan manusia dengan alam sedang tidak baik-baik saja. Dan Ekosistem Leuser masih berdiri, menjaga yang tersisa. Menahan air. Menjaga tanah. Menjaga kehidupan di hulu maupun hilir.
Pertanyaannya bukan lagi apakah banjir akan datang lagi. Ia hampir pasti datang. Pertanyaannya adalah:
ketika hujan berikutnya turun di tubuh Leuser, apakah hutan masih cukup utuh untuk menahannya?
Atau kita akan kembali berdiri di depan rumah yang terendam, memandangi air yang naik perlahan… sambil mengingat sesuatu yang terlambat kita jaga?








